Asosiasi Perusahaan Jasa Penempatan Tenaga Kerja Indonesia                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Indonesian Employment Association For Asia Pacific
Senin, 06-Sep-2010  
 
Lihat Rekom SIP
 
Contact Us
 
E-mail
 
Link

Balanta

Lansima

 
Support
   Useful Links
   Peraturan Penempatan
   Perwakilan RI/ Indonesian Embassy
   Acara TV
 
Kurs Uang
 
Pengumuman
 
Input Rekom
 
NEWS-DETAIL AJASPAC


SUARA MAHASISWA - Memperbaiki Manajemen Tenaga Kerja

2010-01-13 11:11:56 - Ady Rachman Fadillah Mahasiswa Manajemen Fakultas


TIDAK bisa dimungkiri bahwa tenaga kerja adalah salah satu hal penting bagi berjalannya perekonomian. Kadang kala kita terkesan mengabaikan masalah tenaga kerja di Indonesia dan luar negeri yang bisa dikatakan merupakan roda penggerak industri dan ekonomi.

Untuk tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, sudah sangat banyak kasus penyimpangan dan buruknya penanganan pemerintah maupun perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI). Kita bahkan tidak mampu melindungi keamanan dan hak para pekerja.Para TKI pun selalu dituntut menunaikan kewajibannya tanpa sebelumnya dididik dan dilatih.

Semua itu berdampak pada citra TKI yang buruk di mata dunia.TKI kerap diremehkan dan dicap berproduktivitas rendah.
Baru-baru ini Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menerapkan kebijakan penerbitan kartu tanda kerja luar negeri (KTKLN).

Para TKI di luar negeri yang mencapai 6 juta orang harus mempunyai mental, perilaku, dan kemampuan teknis yang baik. Semua itu bisa didapat dari pembinaan awal yang teratur serta pengawasan kerja yang konsisten. TKI kita belum kompetitif dibandingkan tenaga kerja dari negara lain, Filipina misalnya. Hal itu disebabkan tidak adanya persiapan memadai.
Salah satu contoh adalah kurangnya perhatian pemerintah, dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Kita tahu, jutaan penganggur tertolong lewat kerja di luar negeri. Kita pun tahu besarnya jumlah devisa bisa mereka bawa masuk ke Tanah Air mencapai triliunan rupiah. Pahlawan devisa ini harus terus dibina,diberdayakan, dikembangkan, dan dilindungi secara kontinu untuk terus menutup lubang pengangguran sampai industri dalam negeri maju dan membutuhkan. Sementara untuk pekerja di dalam negeri, harus diakui produktivitas pekerja Indonesia relatif masih rendah.

Padahal hal ini menjadi indikator bagi investor asing untuk menanamkan modalnya. Ancaman perdagangan bebas tahun 2010 ini harus segera diantisipasi dengan terus mengembangkan keunggulan komparatif yang dinamis, yakni sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, produktif, dan profesional.

Pada tingkat industrialisasi yang lebih tinggi dibutuhkan keterampilan teknik yang lebih maju. Kita tentu tidak ingin industri dalam negeri runtuh karena masuknya produk luar negeri yang semakin murah dan berkualitas. Sudah cukup kasus perusahaan asing yang mengeluh tentang produktivitas rendah dan buruknya perilaku pekerja Indonesia. Pemerintah harus bisa mengurus tenaga kerja dengan efektif dan efisien kalau tidak mau perusahaan asing semakin kabur dari negeri ini.

Knowledge, skills, abilities, attitudes dan behaviourssangat memengaruhi produktivitas.
Dalam logika kapitalisme, bila produktivitas buruh naik, keuntungan perusahaan akan meningkat, maka kesejahteraan buruh akan diperbaiki. Semoga bisa terealisasi.(*)